Posted by: bowbee | July 29, 2008

Cooking Guy

Ya… seperti judul diatas, ‘Cooking Guy’, yang bila diartikan secara harfiah (btw harfiah tu apaan yah?) kira-kira berarti ‘memasak orang (pria)’, kali ini aku akan membahas bagaimana kita akan memasak orang secara baik dan benar. Bumbu apa yang harus dipakai agar orang terasa sedap, dan seberapa besar api yang harus digunakan.

….

Nggak lah…

Yang bener aku akan membahas soal kegiatan memasakku. ‘cooking guy’, yang bila diartikan secara benar berarti ‘pria yang memasak’. Aku.

Tapi sebelumnya ijinkanlah aku post rhyme text disini…

Saat kuberjalan seorang diri, masuki dapur
Rasa semangat timbul, dihatiku ini melebur
Kupercaya masakanku rasanya nggak kan hancur
Terbayang semuanya kan berjalan teratur

Kumulai siapkan bahan bahan, umum dan khusus
Kupotong bawang yang cuma seharga lima ratus
Dan kubuka bahan lain yang masih terbungkus
Kumulai menyalakan kompor gas dan whuuss!
Api menyala biru terang, siap membakar hangus
Aku memasak dengan hati-hati, dengan halus
Kuyakin ini semua kan sukses, berjalan mulus

Masakan selesai, kucoba dengan agak was-was
Aku takut gagal, takut kalo nggak enak blas
Tapi Alhamdulillah kalo rasanya amat berkelas
Tapi dilihat dari proses, rasanya udah jelas
Dengan sendok, kurasakan perlahan dengan cemas
Begitu dimulut, rasa nggak enak campur panas
Waduh, rasa begini sih bisa bikin kucing tewas!

Sedih, tentu, tapi kunggak menyerah disini
Aku yakin kubisa sukses suatu hari nanti
Kukan belajar dari seluruh kegagalan ini
Kegagalan yang sama takkan terulang lagi

—————————————

Hehe… emang, aku ga terlalu bisa masak. Udah dua tahun aku mulai mendalami masak, tapi aku belum bisa seperti Rudy Hadisuwarno… eh, Rudy Choirudin! (Gila impiannya ni anak. Kelewat tinggi!)

Aku punya ratio berhasil memasak dibanding gagal memasak sekitar 1:3. Jadi tiap 1 kali berhasil, aku sudah 3 kali gagal… Itu rasio awal aku coba memasak hingga 2 bulan yang lalu. Setelah itu hingga sekarang, rasionya 1:1. Peningkatan yang lumayanlah…

Kalau ngomongin kegagalan rasanya nggak seenjoy saat kita ngomongin keberhasilan ya? *ya iya lah..* Tapi tetep aja kegagalan itu adalah sesuatu yang amat lazim terjadi dalam hidup. Kalo kita mau sukses dengan sangat sempurna, ya emang harus ada gagalnya… Kalo kita sukses sempurna tanpa ada gagalnya sama sekali, berarti itu adalah rezeki dari yang Maha Kuasa sekaligus cobaan, apakah kita bisa menerima kesuksesan kita itu dengan biasa dan ngga sombong, ato apakan kita malah bertinggi hati dan merasa hebat?

Jadi… ya. Aku sering sekali gagal. Terutama kalo masak masakan-masakan yang susah-susah. Segagal apapun masakan kita, kita harus berusaha untuk menghabiskannya, atau setidak-tidaknya, cari orang yang mau menghabiskannya (tidak disarankan ). Karena sejelek apapun rasa, tekstur atau bau masakan kita, itu adalah masakan kita! Kita memasaknya dengan hati, harapan dan impian (berlebihan ya, tapi emang ga ada kata-kata lain untuk mengungkapkannya. ) Apalagi kalau kita memasaknya dengan satu essens utama, yaitu ‘Cinta’, yang akan menimbulkan perbedaan besar dibandingkan dengan yang dimasak tanpa ‘Cinta’ (huahahaha… kebanyakan baca koik n nonton film ni anak ). Sayang banget kan kalo ga dimakan?

Selain alasan diatas, ada alasan utama mengapa kita harus memakan masakan yang gagal kita masak. Itu adalah, bila tidak dimakan akan mubadzir! oke, sekarang pembicaraan serius dikit. Aku, setidak enak apapun suatu masakan (yg kumasak sendiri), selalu berusaha menghabiskannya. Soalnya tiap kali aku makan, aku selalu kebayang orang-orang diluar sana yang untuk makan saja kadang ga bisa karena berbagai macam alasan. Kebayang hal seperti itu, rasanya aku ga tega untuk membuang makananku, tapi ga mungkin juga aku berikan ke mereka. Jadi… habiskan sajalah…

Oke, cukup soal masakan gagal. Sekarang kita ngomong ke keberhasilan memasak.

Aku memasak untuk diriku sendiri. Jadi berhasilnya masakan cuma bisa kunikmati sendiri. Kelezatannya cuma aku yang bisa merasakan (Ya keluarga sering kuberi sedikit buat icip-icip aja). Emang sengaja masak buat aku sendiri, soalnya kalo aku juga masakkan buat yang lain, ntar masakan ibu ga kemakan (Ibu suka masak, sama sepertiku).

Aku baru menyadari keberhasilan hanya bisa diperoleh bila kita benar-benar ikut buku resep. Aku lakukan itu dan sejak saat itu kegagalanku minimum. Semua benar-benar kuukur. Aku jadi punya banyak pengetahuan tentang utensils (peralatan) dapur. Aku jadi tahu gelas mana di dapur yang maksimum tampungnya 150 ml, mana yang 200 ml, mana yg 300 ml, api sebesar apa yang diperlukan untuk menggoreng gorengan agar ‘perfect’, perbandingan tepung bumbu dengan air sehingga bisa membuat gorengan ‘kriuk’, tinggi minyak di wajan agar gorengan sempurna, dll.

Wih, semua pengetahuan itu aku peroleh secara tidak sadar dalam proses-proses gagal memasakku. Saat berhasil, saat itulah aku menyadari takaran-takaran yang benar, dan saat itulah aku merasakan kegembiraan.

Saat-saat berhasil itulah yang selalu membuatku bersyukur akan kegagalan-kegagalan memasak yang aku alami dulu. Tanpa kegagalan-kegagalan itu aku nggak akan mungin bisa berhasil. Kalaupun aku langsung berhasil, aku nggak akan tahu gimana rasanya gagal. Aku nggak akan dapet banyak pengalaman. Jadi.. Alhamdulillah… aku masih diberi kemampuan untuk memaknai kegagalan memasak sebelum akhirnya aku bisa meraih keberhasilan…

Kegembiraanku sebenarnya nggak hanya diperoleh saat berhasil saja sih. entah aneh atau tidak, saat aku gagal memasak, aku selalu tertawa-tawa sendiri (kalo nggak ada orang lain di sekitar dapur). Entah itu menertawakan kegagalanku, atau emang lucu aja. Yang pasti saat gagal memasak itu aku merasa, ‘Hei, yang tadi itu benar-benar menyenangkan!’. Aku menikmati proses. Walau hasil tidak enak, tapi prosesnya benar-benar fun! Inilah salah satu hal yang membuatku bisa menyingkapi kegagalan memasak dengan positif.

Kalau kamu, bagaimana caramu menyingkapi kegagalan memasakmu?

Advertisements

Responses

  1. cie… ternyata memasak susah ya… hayooo… sapa yg mo jadi juru masak gw…. sapa… acungkan jarimu…. he…he…wekekek

    Kalo dibayar bole deh mas, tapi siap-siap juga biaya rumah sakit dan obat-obatan buat jaga-jaga kalo mas sakit lambung πŸ™‚

  2. cara menyikapinya dengan cara nyalahin nyokap …. ngajarinnya kurang bener, hihihi. tp gini2 gw dulu smp juara lomba masak lho, ampe bawa2 kompor pake angkot. wakakakaka

    Wih, ebat dong mas… Bisa ngalahin cewe-cewe SMP gitu dalam hal memasak?

  3. Masak juga perlu bakat seni!

    eh, aku yo pernah lo juwara 3 masak mie goreng pas smu dulu.. dengan peraturan modalnya cuma tigarebu saja.

    tambahan:
    yg jelas dg memasak sendiri kebersihan lebih terjamin!!

    Wiw, hebat ya. Di SMA ku ga pernah ada lomba masak-masak gitu… Ya, memasak sendiri kebersihan lebih terjamin, tapi rasa belum pasti terjamin… hehe πŸ™‚

  4. memasak pria? tak kira menggembleng pria gtu. ternyata pria memasak to. hehe bikin kaget aza. tp bagus tu bikin orang pnasaran baca. oia tnx ya uda mampir ke blog saia. sering-sering mampir y sobat.

    Wah-wah… mana mau saya menggembleng pria… Diri sendiri aja masih perlu digembleng… πŸ™‚

  5. gagal masak?

    untuk jadi pembalap hebat harus jatuh dari motor dulu

    Sip… Bener tu, bener… Tapi untuk jadi penyetir hebat ga harus tabrakan dulu πŸ™‚

  6. ternyata kamu hobi masak jg ya..
    pasti banyak simpenan resep2ny.. hehe

    Iya, banyak… Tapi… ssstt… jangan bilang-bilang ya kalo saya punya banyak simpenan πŸ™‚

  7. Masak melatih kesabaran juga kan? coba deh kalo lagi bad mood, pasti masakan jadi kacau balau hehehe….malah sampe bikin kompor meleduk segala

    Kompor meleduk mah bukan gara-gara kita bad mood atuh… kompornya kali yang bad mood πŸ™‚

  8. Hehehe..lucu sekali.
    Aku punya adik cowok yang juga suka masak. Malah waktu kecil, dia yang lebih semangat bantu ibu masak daripada aku. Waktu pulkam kapan itu, malam2 pas kelaparan, aku iseng bilang “Ziz, bikinin nasi goreng donk!” Eh, ternyata beneran dibikinin… dan hasilnya enak!! Terbukti kan, cowok juga bisa masak. Ayo semangat!!

    Menikmati proses ya? Aku terharu dengan kata2 itu. Selama ini kalo gagal aku sering frustasi, menyalahkan diri sendiri. Aku melupakan “keindahan” berproses itu sendiri. Terimakasih sudah mengingatkan.

    ^^


    Wah, boleh juga nih adik mbak… Kalo saya sih bakal bilang *bikin aja ndiri. Dah malem ni, males!’ Huehehehe… juz kidding.

    Ya mbak, sama2… Mari kita selalu berusaha menikmati perjalanan, bukan hanya menikmati saat setelah sampai tujuan saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: